Jumat, 13 Juli 2012

Naura: Enggak…enggak…enggak..!!



Bunda: “Naura makan ya, nak?”
Naura: “Enggak” sambil senyum dan menggeleng.
Bunda: “Naura, bawang merahnya jangan di hamburrrr…!!”
Naura: “Biar ja”
Bunda: “Naura, mandi yuuukk, mainan HP nya nanti lagi..!”
Naura: “Enggak mau..!” sambil tetap asyik memainkan jari-jarinya.

Pernah mengalami hal seperti itu, bunda? Hmmm….ternyata kejadian semacam itu bukan hanya terjadi pada saya. Hampir semua ibu yang sedang atau pernah memiliki anak balita pernah mengalaminya. Ya, memasuki usia 2 tahun anak-anak cenderung mulai memperlihatkan aksi-aksi penolakan terhadap pertanyaan dan pernyataan orang tuanya.

Namun ibu tak perlu khawatir, karena menurut pakar justru sikap tersebut (perilaku menolak) adalah menandakan bahwa sisi emosionalnya berkembang baik. Anak 2 tahun sedang belajar mengembangkan rasa independen, terpisah dari orangtuanya, dan salah satu caranya adalah dengan memutuskan bahwa dia tidak menginginkan apa yang kita inginkan. Bahkan ia juga suka menolak sesuatu yang ia sebenarnya inginkan, hanya karena kita memintanya melakukan itu.

Berikut beberapa hal yang (mungkin) bisa bunda lakukan ketika menghadapi situasi seperti itu. Terimakasih kepada ibu Nurjamila yang telah berbagi pengalaman, karena tips ini saya ambil dari blog beliau dengan sedikit editan..

Pertama, jangan emosi dan berpikirlah positif. Untuk hal yang sepele dan tidak serius, tidaklah perlu memaksakan keinginan kita. Biarkan ia melakukan apa yang ia mau sendiri. Misalnya biarkan saja bila ia keukeuh ingin baju warna biru (abaikan bila tidak cocok dengan celananya), biarkan ia memakai celana atau sepatunya sendiri (saat ia kesulitan dan mulai frustrasi itulah saat yang tepat untuk datang dan menawarkan bantuan, ”Susah ya? Bunda bantuin ya?”). Selain mengajarkan independensi, toh itu ajang bagi dia untuk melatih motorik dan koordinasi tubuhnya juga.

Ke dua, daripada permintaan kita ditolak mentah-mentah dengan kata, ”Tidak! Tidak mau!” kita bisa mengajukan permintaan dengan memberinya suatu pilihan. Hindari permintaan semacam ini, ”Naura, pakai bajunya ya?” ”enggak!” ”Kan Naura suka warna pink..” ”enggak!” ”ada gambarnya loh, lucu deh..”  “enggaaaaakkkkk!”
Percuma saja. Cara yang jitu membuat anak mau menuruti permintaan kita adalah memberikannya pilihan yang tidak memungkinkan untuk dijawab ”tidak”.
”Naura mau yang merah atau yang pink” ”Naura mau main boneka atau balok?” 
Dan sebagai orangtua kita juga harus kreatif membuat pertanyaan sehingga ia mau tidak mau menuruti apa yang kita mau, misalnya: “Naura mau tidur sekarang, atau 5 menit lagi?” atau ”Naura mau kancingnya dipasang semua atau sisa in satu?” “Naura mau pakai sandal yang selop atau yang jepit?”
Selain menghindari bentrokan dengan kita, ini juga menumbuhkan rasa percaya dirinya, karena ia diberi kesempatan memilih. Ini juga mengajarkan ia tentang konsekuensi, bahwa apa yang terjadi adalah keputusannya sendiri.
Ke tiga, jika ia tidak bisa memilih, kita bisa memberikan peringatan dengan hitungan. ”Bunda hitung sampai tiga yah, kalau Naura belum milih juga, Bunda yang pilihin!” Kalau hitungan sudah selesai, kita ambil pilihan kita. Tapi cara ini sebaiknya diambil di saat-saat terakhir saja, karena dampaknya akan berkurang jika digunakan terlalu sering.

Ke empat, beri contoh nyata. Jangan terlalu sering menggunakan kata ”tidak” atau ”jangan!” secara langsung kepadanya, karena secara otomatis ia akan mengikuti gaya kita. Gunakan alternatif lain selagi memungkinkan dengan cara mengganti kata ”jangan” dengan hal yang spesifik tergantung situasi saat itu, misalnya, ”Susunya bukan untuk di hambur ya, tapi untuk di minum.”
Ingat untuk selalu menggunakan kata-kata yang positif yang membuat ia mengerti apa yang harus dilakukan, BUKAN apa yang seharusnya tidak ia lakukan.
Terakhir, untuk hal yang serius atau demi keamanan dan ketertiban, atau saat ia memiliki keinginan yang tidak masuk akal, kita memang harus tegas. Tidak ada alasan ia untuk menolak keinginan kita dan mau tidak mau ia harus nurut. Kemungkinan besar ia akan bereaksi dengan keras – yang juga merupakan perilaku yang normal untuk anak 2 tahun. Tapi kita bisa menjelaskan dengan tenang namun dengan nada tegas, “Bunda tau Naura marah karena ga boleh main dengan gelas kaca.” Atau “Naura pasti kesel ga boleh main dengan pisau itu.” ”Tapi untuk kali ini Naura harus nurut apa kata Bunda.” Kemudian alihkan dengan aktivitas lain untuk menggantikan aktivitas yang kita larang tadi.


Semakin kita beri ia kesempatan untuk mengembangkan kepercayaan dirinya, semakin cepat fase penolakan ini berakhir. Mendidik anak 2 tahun memang perlu sabar namun harus berstrategi. Mari belajar memahami keinginan si kecil, agar si kecil jg bs memahami keinginan kita…sayapun sedang belajar untuk itu….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar